|
PPK-IPM SUMMIT 2007
Pameran Kegiatan Program Pendanaan Kompetisi - Indeks Pembangunan Manusia, Jabar 2007 (PPK-IPM)
Membantu tata pamer stand Bapeda, Indag Kota Tasikmalaya, dan dinas Kota Tasikmalaya lainnya..  
PAMERAN YAYASAN APIKAYU Pameran Yayasan Apikayu bersama YES Program
Apikayu Berkesempatan pameran di Spice Fest/Festival Rempah-rempah ini bertempat di Halaman Belakang Gedung Sate Jl Cimandiri Bandung, gedung Pemprov Jabar, dalam sehari yakni 8 Desember 2007, pukul 09.00 – 20.00 WIB. Keikutsertaan Apikayu pada pameran ini dalam rangka mendukung launching YES Bandung (Young Entrepreneur Start-up) sebuah program coaching dan mentoring bai UKM Pemula kawula muda, dimana Yayasan Apikayu merupakan alumni YES 1 sejak pertama diluncurkan 2004 oleh Indonesia Business Links, Shell, Standard Chartered, dls. 
PROGRAM IDENTIFIKASI UKM KERAJINAN RAJAPOLAH, KAB. TASIKMALAYA
Program Identifikasi UKM Kerajinan Anyaman Rajapolah
Apikayu Bersama Bpk Soeratmo, Direktur PT BIna Karya Mandiri melakukan identifikasi UKM anyaman di Rajapolah dibantu oleh Ibu Santi, dari Balaba Craft. 
PELATIHAN DI DAERAH Diklat Pengembangan Payung Tasikmalaya Dinas Perindustrian dan Perdagangan Kota Tasik
20 s/d 23 November Foto bersama para tokoh perajin Payung Kertas Tasikmalaya dimana kini tersisa hanya 4 perajin  Program Pelatihan Pengembangan Mendong Tasik
Program PPK IPM 2007, Kota Tasikmalaya 18 Oktober s/d 13 November 
Program Pelatihan 4 Komoditi (Bambu, Bordir, Batik, Kelom) Program PPK IPM 2007, Kota Tasikmalaya 18 Oktober s/d 13 November  Bimbingan dan Pengembangan IKM Anyaman di 8 Provinsi Depperin & PT. Rensa Kerta Mukti Lampung Barat & Pontianak, 23 Agustus - 3 September 2007
Program lanjutan setelah pembentukan 24 fasilitator inti dari 8 provinsi, selanjutnya pelatihan bagi 160 peserta di daerah (desa dan daerah tertinggal). Foto berikut mewakili 2 provinsi yang dikunjungi dari delapan lainnya, yakni Desa Turgak, Kecamatan Balalau, Lampung Barat dan Pontianak, Kalimantan Barat. Melalui metode pendekatan Sistem Industri Seni Kerajinan Tangan Terpadu dan dengan Teknik Produksi Sistem Budaya Industri, sebagai embrio penyiapan infrastruktur sumber daya manusia yang memiliki jiwa kewirausahaan yang tangguh, dalam kelompok usaha bersama (KUB) dimana nantinya diharapkan dapat menumbuhkan embrio yang berbadan hukum koperasi sebagai pendekatan pola pembangunan ekonomi berbudaya industri di pedesaan.
Dengan semakin ketatnya persaingan perdagangan dewasa ini dan tuntutan pemenuhan Q, C, D yang sangat ketat juga, maka pengembangan usaha kerajinan anyaman secara terpadu termasuk yang ada di daerah tertinggal harus dilakukan, sehingga semaraknya permintaan akan barang kerajinan anyaman oleh masyarakat perkotaan dapat memberikan imbas kepada pertumbuhan ekonomi pedesaan karena mampu mendukung dan memberikan kontribusi dengan memproduksi barang seni kriya yang berbasis tradisional, etnik dan budaya menuju seni kriya yang lebih modern, kontemporer unik (customized / customized oriented) dengan nilai tambah yang lebih tinggi, sehingga dapat menggairahkan / mendorong aktivitas perekonomian tingkat pedesaan di daerah untuk memenuhi tuntutan pasar internasional yang semakin beragam jenis dan variasi akan barang kriya anyaman, telah banyak dilakukan upaya oleh berbagai pihak, termasuk dengan memanfaatkan potensi yang ada di daerah tertinggal yang sangat besar dan belum dikelola serta dimanfaatkan secara optimal, untuk dapat menjadi embrio dan turut berpartisipasi dalam mendukung penguatan bisnis kerajinan di pasar dalam maupun luar negeri. 8 provinsi yang menjadi sasaran pembinaan adalah : a. Agam, Sumatera Barat b. Belalau, Lampung Barat c. Tayan Hilir, Kalimantan Barat d. Penajam Paser Utara, Kalimantan Timur e, Takalar, Sulawesi Selatan f. Konawe, Sulawesi Tenggara c. Lombok Barat, NTB d. Bangli, Bali Di Tayan Hilir, Pontianak pengembangan dilakukan pada komunitas usaha kerajinan akar keladi air, dengan menerapkan teknik pencampuran/oplos dan komposisi pewarnaan yang menghasilkan efek warna kuno/antik yang selama ini belum pernah mereka ketahui cara dan prosesnya. Sedangkan untuk lokasi di Desa Turgak, Kecamatan Belalau, Lampung Barat Pengembangan di arahkan pada modifikasi produk berusia ratusan tahun dari anyaman limbang (Mendong) berupa wadah nasi (lekai) yang biasa digunakan serupa kantong nasi bila bepergian untuk kemudian dirubah menjadi berbagai macam wadah dengan teknik pencelupan dan pembentukan elastik sehingga dapat dibentuk berbagai macam rupa produk.     MAGANG PERAJIN 8 PROVINSI DI TASIKMALAYA Bimbingan dan Pengembangan IKM Anyaman di 8 Provinsi Depperin & PT. Rensa Kerta Mukti Tasikmalaya, 3 Agustus - 5 Agustus 2007
Program magang membawa 24 perajin (fasilitator inti) yang diarahkan untuk pembentukan kelompok Usaha Bersama (KUB) dibimbing untuk melihat workshop dan studi banding ke perajin-preajin unggulan di Tasikmalaya. Berikutnya para fasilitator inti, 3 peserta dari masing-masing provinsi bertanggung jawab untuk membina dan menjadi pemimpin dari KUB yang akan mereka bentuk. Magang dilaksanakan di beberapa lokasi terpilih : Balaba, Situ Beet, Anugerah Mendong, KUB Andong Jaya, Java Craft, Salikmaya, dls.
PELATIHAN TEORI Bimbingan dan Pengembangan IKM Anyaman di 8 Provinsi Depperin & PT. Rensa Kerta Mukti Jakarta, 31 Juli - 3 Agustus 2007
Memberikan pelatihan teori sebagai bekal untuk kunjungan/magang bagi perajian dari 8 Provinsi ke Tasikmalaya. Pemberian materi dibantu dengan modul tentang desain produk dan modul proses produksi serta bidang pengetahuan lainnya yang disusun oleh para tenaga ahli yang bekerjasama untuk PT Rensa Kerta Mukti. Beberapa modul dan materi pelatihan adalah sbb : 1) Kewirausahaan (Mengembangkan semangat kewirausahaan yang tangguh). 2) 5 S (Menanamkan Budaya 5 S pada Perajin). 3) Desain Produk (Wawasan Pengembangan Kreativitas Penciptaan Desain). 4) Teknik Produksi dan Pengetahuan Bahan (Menanamkan Teknik Berproduksi dan Pemilihan Bahan Baku yang efisien dan produktif untuk memenuhi Q, C, D). 5) Manajemen Usaha (Mengelola Usaha dengan Manajemen yang Benar). 6) Manajemen Keuangan (Menanamkan pengertian tentang makna uang dan mengelola keuangan perusahaan dengan benar). 7) Manajemen Akuntansi/Pembiayaan (Menanamkan pengertian tentang biaya produksi dan membukukan semua biaya, penjualan, utang piutang, rugi, laba perusahaan). 8) Manajemen Pemasaran (Menanamkan penertian tentang seni pemasaran termasuk ekspor).
MONITORING DAN EVALUASI PPK IPM Kota Tasikmalaya Program Revitalisasi LIK Imah Tasik dalam Upaya Peningkatan Daya Beli melalui Pengembangan UKM tahap II Pengembangan Produk Mendong dan ATBM Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain ITB Tasikmalaya, Juli - Agustus 2007 
Umumnya tikar yang dihasilkan para pengrajin Tasikmalaya memiliki kualitas yang baik namun variasi atau keragaman kerajinan yang demikian populer tersebut masih sangat kurang. Beberapa tahun lalu pengembangan mendong pernah dilakukan oleh tenaga ahli dari ITB, walau perkembangannya demikian lambat namun menunjukkan hasil yang sangat positif. Pengembangan motif dan teknik pencelupan warna telah menghasilkan corak baru yang sangat populer saat ini. Namun hingga saat ini perajin hanya mengulang desain tersebut terus menerus tanpa ada perubahan atau variasi yang signifikan, padahal dengan tingginya permintaan pasar ekspor terhadap tenunan mendong, lidi dan pandan dari Tasikmalaya perlu adanya pengembangan variasi baru. Selama ini pengembangan produk mendong hanya dilakukan dengan mengolah bilah/ helaian mendong saja (pakan) sedangkan lusi atau benang kurang dikembangkan. Satu-satunya cara yang nampak adalah mengatur pintalan (gulungan benang/gun) dengan warna yang beragam. Dimana kelemahannya adalah ketika gulungan benang sudah terpasang dan dirangkai pada ATBM yang membutuhkan waktu dan tenaga yang demikian banyak, maka ketika ada permintaan untuk mencoba motif baru dari ATBM Mardani tersebut sangat sulit bagi perajin untuk menerima karena harus melepaskan benang/gulungan yang sudah dirangkai pada ATBM tersebut. Sehingga diperlukan cara agar perajin dapat mudah mencoba berbagai kemungkinan motif atau warna walau dengan menggunakan gulungan benang yang sama. Caranya adalah dengan memberikan kemudahan melalui pemberian pewarnaan secara kustomisasi atau pada benang dengan teknik lukis atau teknik pewarnaan lainnya yang disesuaikan dengan desain ATBM. ATBM Pengembangan ini dirancang untuk memecahkan persoalan-persoalan dibawah ini : - Gun dan injakan terdapat 4 buah dengan peletakan yang lebih presisi. Kepresisian ini diperlukan agar gun yang satu dengan gun yang lain tidak tabrakan ketika digunakan. Atau gun yang tidak digunakan tidak mengganggu gun yang digunakan ketika pengrajin menggunakan sistem 2 injakan. - Sarana duduk menyatu dengan ATBM agar bobot mesin lebih stabil ketika digunakan. Sarana duduk ini dapat dirubah posisinya tergantung dari kenyamanan penggunanya. Perubahan posisi dan kemiringan dudukan sangat penting karena proses menenun dilakukan dalam waktu yang cukup lama dengan posisi yang relatif tetap. Diharapkan dengan posisi yang sesuai dengan pengguna sehingga kenyamanan menjadi lebih baikd engan tujuan akhir produktifitas menjadi meningkat. - Teknik lain yang bisa digunakan agar motif menjadi lebih beragam adalah dengan melukis terlebih dahulu benang sebelum dilakukan penenunan. Pada mesin lama hal ini sulit dilakukan karena jalur benang dari rol langsung masuk ke gun. Sedangkan pada ATBM pengembangn ini benang selain dapat langsung ke gun juga dapat diarahkan terlebih dahulu ke atas sehingga pengrajin dapat melukis berbagai motif pada benang sebelum benang masuk ke gun. - Sistem Knock-down; sistem ini digunakan agar para pengrajin mudah dalam menyetel (Install) mesin ketika mesin akan dipindahkan dari satu tempat ke tempat lain walaupun pada dasarnya pemindahan ini jarang dilakukan. Hal lainnya adalah agar mudah perawatan khususnya bila ada beberapa elemen yang rusak (kayu yang lapuk atau besi sisir yang rusak)  PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Pemanfaatan Material Dahan Salak Untuk Produk Komponen Interior dan Mebelair Pusat Penelitian Seni Rupa dan Desain ITB, LPPM ITB & Yayasan Apikayu Januari - September 2007  Kegiatan ini merupakan pengembangan lanjutan untuk produk kerajinan dahan salak, dimana pada penelitian-penelitian terdahulu pemanfaatan dahan salak hanya sebatas pengolahan tenun bilah salak menjadi bidang lembaran untuk tikar, placemat, sajadah, table runner, dan produk lembaran lainnya. Pengembangan produk 3d berupa divider table lamp menampilkan berbagai macam eksplorasi terhadap kulit, barang, dan serat dahan salak. untuk mencari sifat dan karakter bahan yang unik untuk di tonjolkan.      
PENELITIAN DAN PENGEMBANGAN Mesin Perontok Duri dan Pengirat Salak untuk Peningkatan Kapasitas Produksi Kerajinan Batang Salak Yayasan Apikayu & Ristek RI Tasikmalaya, April - September 2007     Dengan pertimbangan bahwa banyak sektor produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah serta Koperasi di Indonesia kurang berkembang karena lemahnya penerapan, penguasaan dan pemanfaatan iptek. Keunggulan kompetitif dan komparatif produk unggulan daerah pada dasarnya dapat ditingkatkan dengan meningkatkan Quality, Cost and Delivery (QCD). Tanpa usaha yang intensif dan ekstensif dan berjangka panjang untuk menguasai, memanfaatkan dan menerapkan iptek, produk-produk unggulan bangsa Indonesia tidak akan dapat bersaing di dalam dan di luar negeri. Oleh sebab itu, diperlukan usaha yang secara komprehensif dapat mempercepat difusi dan pemanfaatan iptek dengan mengembangkan dan meningkatkan nilai tambah produk unggulan daerah, meningkatkan penguasaan iptek sistem produksi serta mendorong pemanfaatannya secara nyata kedalam kegiatan industri spesifik yang berdaya saing. Hal ini diharapkan akan membangkitkan peran masyarakat dalam membudayakan iptek dan memanfaatkannya dalam kegiatan sosial ekonomi. Penelitian ini merupakan penguatan mata rantai dukungan teknologi (technology supply chain) dalam rangka mensejahterakan dan memandirikan masyarakat. Industri kecil kerajinan merupakan industri padat karya yang berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja, kontribusi pendapatan daerah serta pengembangan tradisi kemahiran lokal. Industri kerajinan di Indonesia terbukti mampu bertahan dari gelombang krisis moneter karena berbasis pemanfaatan bahan baku lokal dan tidak bergantung pada investasi teknologi yang mahal. Pengembangan mesin pembilah dahan salak merupakan pengembangan lanjutan dari langkah eksperimen yang sebelumnya pernah diupayakan oleh beberapa tenaga ahli asal ITB dalam sebuah Yayasan. Eksperimen tersebut akan disempurnakan melalui program penelitian ini dengan keterlibatan tenaga ahli yang beragam, dari desain produk industri, kerajinan dan mesin sehingga kelayakannya dapat lebih dipertanggungjawabkan.
Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya tentang pemanfaatan material dahan salak sebagai bahan baku baru kerajinan yang pada penemuannya didasari oleh ancaman penebangan massal perkebunan salak milik rakyat seluas +/- 800 ha di Desa Cineam, Manonjaya, Tasimalaya karena terpaan krisis jatuhnya harga salak dari Rp. 5000,-/kg menjadi Rp. 800,-/kg. Melalui pemanfaatan dahan salak yang semula tidak memiliki nilai ekonomi saat ni telah berhasil menyerap lebih dari 50 pemasok bilah dahan salak dari tiga desa dan berdirinya satu unit usaha baru IKM Manikmaya dengan perkembangan yang baik. Setelah melalui pendampingan selama 1 tahun, Industri pengolah dahan salak (Manikmaya) menghadapi kendala klasik seperti umumnya IKM kerajinan yakni tuntutan pemenuhan kapasitas dan standarisasi mutu. Saat ini dibutuhkan mekanisme untuk membantu proses pengolahan bahan baku dasar dari batang menjadi bilah/iratan dengan lebih mudah dan cepat. Solusinya adalah membuat mesin pengirat (membuat bilahan) serta menghaluskan. Prinsip kerja mesin adalah membuat putaran tarik terhadap batang salak adalah : 1. Untuk membelah, dengan prinsip mempercepat proses pembuatan bilah-bilah. 2. Proses amplas atau pengikisan bagian dasar bilah untuk mencapai ukuran yang seragam sekaligus amplas penghimpit dibeberapa sisi untuk menjangkau seluruh permukaan batang yang berbekas bekas duri.
PELATIHAN Peningkatan Mutu Mebel Desain Kayu Disperindag Kota Kuningan Kuningan, 5 - 9 April 2007 Program yang diselenggarakan oleh Disperindag Kota Kuningan, dengan melibatkan pihak FSRD ITB sebagai tenaga ahli. Kegiatan menekankan kepraktisan dan efisiensi bahan sesuai kaidah-kaidah produk furnitur modern.  
PENELITIAN & PENGEMBANGAN Pemanfaatan Dahan Salak Untuk Produk Aksesoris Interior LPPM ITB, Dikti, Yayasan Apikayu, Manikmaya Tasikmalaya, April - Desember 2006 Pelatihan dasar untuk eksplorasi bahan dan komposisi pewarna, penelitian menghasilkan beragam komposisi dan warna dengan formulasi yang dibakukan oleh IKM. sayangnya administrasi yang sangat kurang baik hingga kegiatan ini berakhir tahun lalu dan hingga saat ini (akhir 2007) komitmen pendanaan dari Dikti maupun LPPM ITB belum terealisir sama sekali. 
PELATIHAN & PENELITIAN Pelatihan Bagi Remaja Putus Sekolah (PKBM Siliwangi) & Penelitian Pengembangan Piranti Mainan Berbahan Dasar Kardus untuk Pendidikan Anak Usia Dini (PADU) di 3 Kabupaten Direktorat Pendidikan Luar Sekolah/DPLS & Balitbang Depdiknas Tamansari, Soreang, Cimahi, 2005 - 2006 Keping PADU sebuah paket piranti permainan dikhususkan bagi Pendidikan Anak Dini Usia (4-6 tahun) yang diarahkan untuk menstimulasi motorik halus. Pengujian dan pelatihan dilakukan di MDA. Darul Ulum-Tamansari, TK. Ummul Mukminin-Soreang, dan TK. Miftahul Iman, Baros-Cimahi. Permainan konstruktif kardus ini terbuat dari bahan kardus, sehingga harganya relatif murah dapat dijangkau oleh sekolah yang minim dana, bahkan dapat dibuat oleh guru dari bahan kardus bekas. Mainan konstruktif kardus yang akan digunakan dalam penelitian ini berupa mainan bersifat bongkar pasang. Anak dapat membentuk serpihan kardus menjadi bentuk binatang seperti gajah, anjing, sapi, burung, dan belalang serta bentuk pohon. Kegiatan ini menggunakan teknik melipat, menekuk, dan menyelipkan atau memasukkan kepingan kardus sehingga membentuk mainan wayang tiga dimensi yang dapat dimainkan dalam kegiatan sandiwara boneka. Permainan konstruktif kardus ini sudah dilengkapi dengan pewarnaan dan simbol-simbol untuk memudahkan anak merancang bentuk, dan dilengkapi pula dengan petunjuk penggunaan bagi guru dan orang tua. Kegiatan belajar menggunakan media permainan konstruktif kardus ini dapat dilakukan oleh guru atau orang tua baik individu maupun kelompok. Kegiatan ini diawali dengan penjelasan dan pemberian contoh dari guru atau orang tua tentang cara menggunakan mainan. Setelah itu anak diberi kesempatan untuk memainkannya sendiri.Berikan bantuan jika anak menemui kesulitan, tapi berikan kesempatan pula bagi anak untuk menyelesaikan masalah yang ditemuinya. Berkenaan dengan keterampilan motorik halus anak, penelitian ini akan terfokus pada keberhasilan anak dalam mengendalikan gerakan jasmaniah melalui kegiatan pusat syaraf, urat syaraf dan otot yang terkoordinasi. Penelitian ini diharapkan dapat menjawab pertanyaan : Apakah kegiatan bermain konstruktif kardus dapat digunakan sebagai media mengembangkan motorik halus anak prasekolah?    
|