|
Mesin Perontok Duri dan Pengirat Salak untuk Peningkatan Kapasitas Produksi Kerajinan Batang Salak Yayasan Apikayu & Ristek RI Tasikmalaya, April - September 2007
Dengan pertimbangan bahwa banyak sektor produksi Usaha Mikro Kecil dan Menengah serta Koperasi di Indonesia kurang berkembang karena lemahnya penerapan, penguasaan dan pemanfaatan iptek. Keunggulan kompetitif dan komparatif produk unggulan daerah pada dasarnya dapat ditingkatkan dengan meningkatkan Quality, Cost and Delivery (QCD). Tanpa usaha yang intensif dan ekstensif dan berjangka panjang untuk menguasai, memanfaatkan dan menerapkan iptek, produk-produk unggulan bangsa Indonesia tidak akan dapat bersaing di dalam dan di luar negeri. Oleh sebab itu, diperlukan usaha yang secara komprehensif dapat mempercepat difusi dan pemanfaatan iptek dengan mengembangkan dan meningkatkan nilai tambah produk unggulan daerah, meningkatkan penguasaan iptek sistem produksi serta mendorong pemanfaatannya secara nyata kedalam kegiatan industri spesifik yang berdaya saing. Hal ini diharapkan akan membangkitkan peran masyarakat dalam membudayakan iptek dan memanfaatkannya dalam kegiatan sosial ekonomi. Penelitian ini merupakan penguatan mata rantai dukungan teknologi (technology supply chain) dalam rangka mensejahterakan dan memandirikan masyarakat. Industri kecil kerajinan merupakan industri padat karya yang berperan penting dalam penyerapan tenaga kerja, kontribusi pendapatan daerah serta pengembangan tradisi kemahiran lokal. Industri kerajinan di Indonesia terbukti mampu bertahan dari gelombang krisis moneter karena berbasis pemanfaatan bahan baku lokal dan tidak bergantung pada investasi teknologi yang mahal. Pengembangan mesin pembilah dahan salak merupakan pengembangan lanjutan dari langkah eksperimen yang sebelumnya pernah diupayakan oleh beberapa tenaga ahli asal ITB dalam sebuah Yayasan. Eksperimen tersebut akan disempurnakan melalui program penelitian ini dengan keterlibatan tenaga ahli yang beragam, dari desain produk industri, kerajinan dan mesin sehingga kelayakannya dapat lebih dipertanggungjawabkan. Penelitian ini merupakan kelanjutan dari penelitian sebelumnya tentang pemanfaatan material dahan salak sebagai bahan baku baru kerajinan yang pada penemuannya didasari oleh ancaman penebangan massal perkebunan salak milik rakyat seluas +/- 8000ha di Desa Cineam, Manonjaya, Tasimalaya karena terpaan krisis jatuhnya harga salak dari Rp. 5000,-/kg menjadi Rp. 800,-/kg. Melalui pemanfaatan dahan salak yang semula tidak memiliki nilai ekonomi saat ni telah berhasil menyerap lebih dari 50 pemasok bilah dahan salak dari tiga desa dan berdirinya satu unit usaha baru IKM Manikmaya dengan perkembangan yang baik. Setelah melalui pendampingan selama 1 tahun, Industri pengolah dahan salak (Manikmaya) menghadapi kendala klasik seperti umumnya IKM kerajinan yakni tuntutan pemenuhan kapasitas dan standarisasi mutu. Saat ini dibutuhkan mekanisme untuk membantu proses pengolahan bahan baku dasar dari batang menjadi bilah/iratan dengan lebih mudah dan cepat. Solusinya adalah membuat mesin pengirat (membuat bilahan) serta menghaluskan. Prinsip kerja mesin adalah membuat putaran tarik terhadap batang salak adalah : 1. Untuk membelah, dengan prinsip mempercepat proses pembuatan bilah-bilah. 2. Proses amplas atau pengikisan bagian dasar bilah untuk mencapai ukuran yang seragam sekaligus amplas penghimpit dibeberapa sisi untuk menjangkau seluruh permukaan batang yang berbekas bekas duri.
Pemanfaatan Batang Salak untuk Produk Aksesoris Interior : Pemberdayaan Ekonomi Petani Salak, Desa Cineam, Tasikmalaya LPPM ITB, Yayasan Apikayu, Manikmaya Juni - Desember 2006 (Monev hingga 2009) 
Beberapa tahun terakhir harga salak Manonjaya Tasikmalaya jatuh drastis dari Rp. 5000,-/kg menjadi Rp. 1000,-/kg, karena beberapa sebab, kalah bersaing dengan salak jenis lain, pasar yang jenuh, transaksi tanpa melalui pasar induk, bersaing dengan buah impor serta kenaikan BBM berturut-turut. Hal ini ditandai dengan semakin kecilnya volume pengiriman salak dari Cineam ke pasar-pasar utama di Jawa Barat sehingga berdampak pada penghasilan penduduk Cineam yang sebagian besar bergantung pada komoditas salak. Masyarakat sedikit demi sedikit dan meluas mulai menebang dan membabati kebun-kebun salak milik mereka sendiri kemudian menggantinya dengan tanaman yang dianggap lebih memiliki nilai ekonomi seperti pisang, singkong, talas. Karenanya, bila hal tersebut dibiarkan lebih lanjut tidak menutup kemungkinan salak sebagai ciri khas Cineam akan lenyap suatu saat nanti serta ancaman erosi serius Mencari Upaya Alternatif Rumpun-rumpun tanaman salak yang demikian lebat dengan dahan memiliki persoalan pada perawatannya. Dalam jangka waktu beberapa bulan sekali dahan dari rumpun terluar biasanya tua dan mati secara alami hingga harus dipangkas atau dibiarkan membusuk begitu saja. Umumnya dahan salak yang berlimpah tersebut dimanfaatkan untuk hal-hal sepele yang sama sekali tidak berdampak secara ekonomi seperti pasak pohon kacang-kacangan pada musim kemarau, pupuk organik (kompos), perangkap burung, mainan kampung. Melalui gagasan penduduk setempat untuk memanfaatkan dahan salak tua sebagai bahan baku alternatif kerajinan, maka jauh sebelum kegiatan ini secara formal didukung oleh banyak pihak, eksperimen pengolahan telah mulai dilakukan secara serius. Teknik yang telah dilatih adalah pewarnaan, motif, komposisi serta pengolahan material dengan teknik tenun pada produk tikar dan kerai dahan salak serta penerapannya pada bidang 3dimensi seperti partisi (divider), panel, pintu, dls. Pengaturan komposisi dan motif pada proses tenun disusun berdasarkan 2 tipe kombinasi, masif dan gradasi. 1 tipe masif dan 4 tipe gradasi. Kemudian disusun melalui kombinasi a. tipe pencelupan, b. komposisi warna, c. variasi silang. Berikutnya melalui beberapa melalui 3 variabel kombinasi ditambah variasi warna yang sedemikian beragam. Hasilnya berupa komposisi motif dan variasi yang sangat baik Yayasan membagi program berjangka pada kegiatan pemanfaatan dahan salak sebagai berikut : a. Fase Inkubasi 2003-2005 adalah ketika sekelompok golongan muda masyarakat di Desa Cineam berinisiatif melakukan eksplorasi sederhana pengolahan dahan salak secara mandiri tanpa keterlibatan pihak manapun. b. Fase Pertumbuhan 2006 adalah ketika Yayasan melalui pintu Lembaga Penelitian ITB dan dukungan finansial dari LIPI dan DIKTI memberikan bantuan investasi bergulir, pendampingan teknis, akses terhadap jaringan usaha, promosi serta pameran. c. Fase Pemantapan 2007 adalah bantuan penguatan usaha dalam bentuk difusi atau insentif teknologi untuk mendorong peningkatan kapasitas produksi dengan membuat mesin pengirat dahan salak dan pengujian laboratorium terhadap keawetan bahan. Selain itu, untuk mencapai volume target dan sasaran orientasi ekspor maka reliabilitas, standarisasi mutu bahan serta kapasitas produksi merupakan variable yang harus dipenuhi. d. Fase Kemandirian 2008 adalah mutlak bagi Manikmaya menjadi IKM unggulan karena sebagai pencetus produk inovatif, pendampingan secara intensif, kemudahan berbagai akses insentif, serta jaringan kemitraan yang telah tersedia. Manikmaya harus turut membantu tumbuhnya perajin plasma menjadi industri kecil baru disekitarnya untuk menciptakan klaster baru. Saat ini kegiatan pendampingan komunitas baru perajin dahan salak (start-up) untuk menjadi klaster IKM baru di daerah Cineam mulai berjalan secara formal. Satu-satunya unit usaha pengolahan dahan salak yakni Manikmaya yang sebelumnya bergerak secara informal, telah mendapat pembinaan oleh yayasan sebagai fasilitator kegiatan. Dukungan awal berupa bantuan dana investasi bergulir (revolving grant). Program berjangka tahap awal yang secara berurut dilaksanakan adalah pengembangan produk, konsultasi manajeman dan administrasi usaha, promosi dan pameran. Pentingnya menanggulangi krisis harga salak yang berdampak serius bagi pendapatan masyarakat harus dijawab pula dengan upaya pengembangan usaha kerakyatan yang berbasis atas problem lokalitas dan potensi lokal kawasan. Maka, ide-ide sederhana yang semula berawal dari masyarakat diseriusi secara formal oleh sebuah organisasi sosial yang bergerak dibidang pembinaan desain dan kria yakni Yayasan Apikayu dan beberapa penduduk setempat. Berikutnya mereka bersama-sama membuat program perencanaan strategis berjangka untuk mengembangkan pemanfaatan dahan salak menjadi produk alternatif selain pemanfaatan buahnya dan sekaligus menjadi pilot project untuk start-up klaster baru industri kerajinan dahan salak. Vegetasi tanaman Salak yang demikian berlimpah dan cenderung tidak termanfaatkan memiliki potensi untuk bahan baku industri interior /arsitektur. Kegiatan ini memiliki potensi replikasi yang tinggi diseluruh daerah nusantara penghasil salak. Produk kerajinan dahan salak dapat menjadi penghasilan alternatif masyarakat selain mengkonsumsi hasil buahnya. Pengolahan potensi lokal melalui pengembangan desain produk tidak membutuhkan nilai investasi maupun insentif teknologi tinggi. Hal terpenting adalah pendampingan bagi pengrajin inti untuk menjamin keberlanjutannya bagi pengrajin plasma. Memasuki Fase Pemantapan 2007 dilaksanakan pembuatan mesin pengirat dahan salak melalui Program Insentif Percepatan Difusi dan Pemanfaatan Iptek untuk membantu menyempurnakan kerapihan iratan, standarisasi ukuran iratan, serta meningkatkan kapasitas produksi. Penelitian juga tengah mempersiapkan pengujian keawetan dahan salak sebagai bahan baku baru industri kerajinan sehingga dapat memenuhi standarisasi baku mutu bahan. 
PEMBINAAN KEWIRAUSAHAAN
Program Kewirausahaan Muda Pemula/Young Entrepreneur Strat-up(YES Program) Standard Chartered, Shell, McKinsey Company, IBL, Progressio Indonesia Bandung, April 2005 - April 2008  Dukungan business funding, mentoring dan market chaneling dalam kerjasama wirausaha bagi kelompok muda inovatif. Melibatkan kolaborasi entrepreneurial antara Apikayu dan Pita.Co, di bandung, yang fokus pada produk berbahan kardus (Cardboard).
|